Kamis, 14 Juli 2022

 


Tak dapat dipungkiri bahwa Pandemi COVID-19 yang melanda diakhir tahun 2019 hingga kini membawa pengaruh besar terhadap layanan pembelajaran disekolah-sekolah bahkan dikampus-kampus sekalipun. Pembatasan ruang gerak orang-perorang jadi penyebab utama kehadiran para pelajar kesekolah menjadi amat terbatas. Bahkan disepanjang tahun pelajaran 2020/2021 hampir sepanjang tahun kegiatan pembelajaran dilakukan dirumah.

Minimnya penguasaan teknologi informatika dan keterbatasan sarana menjadi sebab belum berhasilnya skenario pembelajaran alternatif yang diberikan pemerintah agar pembelajaran tetap berlangsung.  Beragam aplikasi metoda daring dan penyediaan kuota internet gratis untuk guru dan peserta didik menjadi tidak efektif dan terkesan mubazir.

Alih-alih mendorong penguasaan teknologi informatika dan mencukupkan sarana prasana, pemerintah justru mengambil langkah penyederhaan kurikulum dengan menerbitkan Kepmendikbud Nomor 719/P/2020 tentang Pedoman Kurikulum Dalam Kondisi Khusus.

Beberapa kajian menyebutkan bahwa kurikulum yang lebih sederhana dapat mendorong hasil belajar yang lebih baik terutama ketika pembelajaran mengalami keterbatasan. Penyederhanaan kurikulum difokuskan pada pembelajaran kompetensi esensial, yaitu literasi dan numerasi. Hasil studi selama masa pandemi menunjukkan bahwa siswa yang menggunakan Kurikulum Kondisi Khusus (kurikulum darurat) memiliki capaian literasi dan numerasi yang lebih baik dibandingkan siswa di sekolah yang masih menerapkan Kurikulum 2013 secara penuh, di mana selisih capaian antara kedua kelompok tersebut setara dengan 4 bulan belajar. Dampak penggunaan kurikulum darurat ini terbukti mengurangi risiko learning loss bagi siswa, terutama mereka yang berasal dari kelompok rentan (keluarga di daerah tertinggal, orang tua berpendidikan rendah, dan memiliki keterbatasan buku teks).

Sejak masa itu, beberapa sebutan kurikulum silih berganti memenuhi ruang debat dan bahasan akademik dikampus-kampus. Mulai kurikulum Paradigma Baru, Kurikulum Prototipe, dan terakhir Kurikulum Merdeka. Untuk sebutan terakhir, Kurikulum Merdeka; merupakan kurikulum dengan pembelajaran intrakurikuler yang beragam di mana konten akan lebih optimal agar peserta didik memiliki cukup waktu untuk mendalami konsep dan menguatkan kompetensi.

Guna menguji keberhasilan Kurikulum Merdeka mengatasi masalah loss learning, Pemerintah melakukan ujicoba dua sisi melalui pendekatan institusional (sekolah) dengan program Sekolah Penggerak dan pendekatan personal (perorangan) dengan program Guru Penggerak. Dan ternyata upaya itu berhasil setelah uji coba terhadap 2500 sekolah dan 7800 orang guru penggerak.

Maka sejak itu Menteri Pendidikan, Nadiem Makarim dengan lempang menggulirkan Paket Merdeka Episode ke-15 yang disebut dengan Kurikulum Merdeka Mengajar. Dalam rentang waktu 2022 hingga tahun 2024 sekolah-sekolah mulai PAUD hingga SMA/ SMK dapat menerapkan Kurikulum Merdeka secara mandiri.

Ada tiga macam pilihan bagi sekolah dalam mengimplementasian kurikulum merdeka sesuai dengan kemampuan sumber daya disekolah. Sekolah dapat memilih jalur Mandiri Belajar, Mandiri Berubah, Atau Mandiri Berbagi. Tahun 2024 menjadi penentuan kebijakan kurikulum nasional berdasarkan evaluasi terhadap kurikulum pada masa pemulihan pembelajaran. Evaluasi ini menjadi acuan Kemendikburistek dalam mengambil kebijakan lanjutan pasca pemulihan pembelajaran.

Penjelasan operasional pelaksanaan Kurikulum Merdeka diatur dengan Keputusan Badan Standar Kurikulum dan Asesmen Nasional (BSKAP) melalui Keputusan Kepala BSKAP No. 033/H/KR/2022 dan Berdasarkan Keputusan Kepala BSKAP No. 009/H/KR/2022.

Dengan menerapkan pembelajaran ini peserta didik secara eksplisit akan melaksanakan pembelajaran intrakurikuler dan kokurikuler sekaligus. Pembelajaran intrakurukuler ditujukan untuk mengisi ranah kognitif dengan materi terpilih dan pembelajaran kokurikuler secara khusus ditujukan untuk Penguatan Profil Pelajar Pancasila melalui pilihan tema yang sudah ditetapkan. Sekolah berkewajiban memilih Tema yang sesuai dengan kondisi peserta didik saat itu dan menjadikannya sebagai Projek.


Jumat, 27 Mei 2022

Survey IKM UPT SMPN 2 Sungai Tarab



Pandemi covid-19 telah menjadi keprihatinan global. Pandemi ini berdampak pada berbagai sektor sektor yaitu ekonomi, sosial-budaya, dan juga pendidikan. Dalam menjalankan kegiatan dimasa pandemi ini, ada banyak inisiatif yang dapat dilakukan agar tetap dapat melakspeserta didikan kegiatan di tengah kesulitan. Di dunia pendidikan, termasuk pada pendidikan tinggi dapat memanfaatkan kemerdekaan berpikirnya untuk dapat lepas dari masalah dan menatap masa depan dengan optimitis. Salah satu yang bisa dilakukan perguruan tinggi yaitu dengan ‘me-lockdown’ perkuliahan secara fisik dalam jangka waktu tertentu dan memaksimalkan ‘open up’ kuliah melalui model lain dengan memanfaatkan teknologi virtual dan digital.

 Revolusi industri 4.0 memungkinkan kita melakukan inisiatif terbarukan untuk memaksimalkan fungsi komunikasi, transfer informasi, dan pengetahuan pada berbagai sektor termasuk pendidikan. Di masa pandemi ini Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi mendorong dalam pembelajaran secara online agar lebih efektif. Perkembangan teknologi komunikasi dan digital memiliki peran signifikan yang bisa dimanfaatkan seluas-luasnya oleh para akademia.

Terkait pencegahan penyebaran covid-19, UPT SMP Negeri 2 Sungai Tarab menerapkan pembelajaran secara online atau lebih dikenal pembelajaran dalam jaringan (daring). Namun didalam Layanan Pendidikan ini tentu banyak ditemukan kendala dan keuntungan oleh  stakeholder yang kita harapkan untuk mendapatkan pelayanan yang baik, salah satunya yaitu terkait dengan Layanan Pendidikan. Maka dengan ini UPT SMP Negeri 2 Sungai Tarab mengadakan Survey evaluasi Layanan Pendidikan yang dilaksanakan mulai tanggal 01 Mei hingga 30 Mei 2021. Adapun responden Survey ini terdiri dari peserta didik, orangtua, dan GTK UPT SMP Negeri 2 Sungai Tarab.

Ruang Lingkup kegiatan Survey kepuasan dalam Layanan Pendidikan ini terdiri dari :

  1.  Responden; Responden adalah peserta didik, orangtua, dan GTK UPT SMP Negeri 2 Sungai Tarab
  2. Kepuasan dalam Layanan Pendidikan; Kepuasan dalam Layanan Pendidikan adalah tingkat kepuasan pada layanan yang diberikan oleh  semua sistem yang tersedia bagi Layanan Pendidikan.

Secara umum, pelaksananaan survey kepuasan dalam Layanan Pendidikan ini dilakukan melalui tiga tahapan meliputi:

  1.  Tahap Pengembangan konsep dan instrument Survey.
  2.  Pengumpulan data-data
  3. Analisis data dan penulisan laporan

Pada Survey yang telah dilakspeserta didikan, responden dikelompokkan menjadi tiga, yaitu; kelompok peserta didik, kelompok orangtua, dan kelompok GTK

Untuk kelompok peserta didik dikemukakan diajukan sebanyak 26 pertanyaan meliputi:

Q1.   Bagaimana keadaan ruangan labor IPA dan alat praktek yang anda gunakan dalam pembelajaran ? (meliputi perawatan, kelengkapan ,dsb)

Q2.  Bagaimana kemudahan penggunaan ruang dan alat praktek tersebut ? (ketersediaan instruksi kerja,adanya panduan dari guru terkait, dsb)

Q3.  Bagaimana kondisi & kelengkapan tempat latihan olahraga yang anda gunakan untuk kegiatan ekstrakurikuler ?

Q4.  Bagaimana kondisi & kelengkapan ruang Praktikum/bengkel yang anda gunakan untuk kegiatan praktek kerja ?

Q5.   Bagaimana kondisi & kelengkapan ruang perpustakaan sekolah yang anda gunakan ?

Q6.   Bagaimana kondisi, kebersihan & kelengkapan sarana kantin sekolah ?

Q7.   Bagaimana kondisi, kebersihan & kecukupan sarana kamar mandi & toilet sekolah ?

Q8.  Bagaimana dengan kesesuaian buku - buku diperpustakaan sekolah dengan kebutuhan anda sebagai siswa?

Q9.    Bagaimana manfaat, kondisi & pengelolaan koperasi siswa di sekolah ?

Q10. Bagaimana kelengkapan dan kebersihan ruang agama/ tempat ibadah di sekolah ?

Q11. Bagaimana tentang kebersihan lingkungan sekolah anda (selokan, tempat sampah, lorong - lorong,taman, dsb) ?

Q12. Bagaimana metode pengajaran guru praktek dijurusan anda secara umum?

Q13. Bagaimana kreatifitas guru - guru anda dalam menggunakan metode, media/alat dan sumber mengajar?

Q14. Bagaimana sikap & peran guru - guru anda dalam memotivasi anda ?

Q15. Bagaimana tentang kedisiplinan para guru (datang tepat waktu, tingkat kehadiran guru, dsb) ?

Q16. Bagaimana tentang keteraturan pemberian ulangan /tes dari guru - guru anda ?

Q17. Bagaimana kejelasan Tata Tertib & Peraturan Sekolah?


Q18. Bagaimana tentang konsistensi pelaksanaan Tata Tertib tersebut ?

Q19. Bagaimana kejelasan & konsistensi terhadap pemberian sanksi atas pelanggaran terhadap TataTertib & Peraturan Sekolah tersebut ?

Q20. Bagaimana peran petugas BP dalam membantu siswa mengatasi masalah – masalah yang hadapi siswa ?

Q21. Bagaimana peran BP/BK dalam membantu siswa memberi bimbingan dan informasi mengenai kesempatan kerja / pendidikan lebih lanjut ?

Q22. Bagaimana mengenai ketenangan belajar di sekolah ?

Q23. Bagaimana pendapat anda tentang image sekolah anda ?

Q24. Bagaimana image orang lain (teman, orang tua,kenalan, masyarakat, dsb) terhadap sekolah anda?

Q25. Bagaimana dengan peran OSIS sebagai wadah untuk menyalurkan aspirasi siswa?

Q26. Bagaimana dengan ragam jenis kegiatan ekstrakurikuler di sekolah anda?

 Untuk responden kelompok orang tua dikemukakkan 8 pertanyaan yang meliputi;

  • Q1. Bagaimana kompetensi (pengetahuan, keterampilan) yang kini dimiliki anak anda setelah mengikuti pendidikan di UPT SMPN 2 Sungai Tarab ?
  • Q2.  Bagaimana dengan perkembangan sikap perilaku/akhlak anak anda setelah mengikuti pendidikan di UPT SMPN 2 Sungai Tarab ?
  • Q3.  Bagaimana dengan disiplin (pengaturan waktu,pengerjaan tugas – tugas) yang dimiliki anak anda setelah mengikuti pendidikan di UPT SMPN 2 Sungai Tarab ?
  • Q4.  Bagaimana keterjangkauan biaya pendidikan di UPT SMPN 2 Sungai Tarab ?
  • Q5. Bagaimana dengan program/tata tertib anti narkoba yang dijalankan di UPT SMPN 2 Sungai Tarab ?

  • Q6. Bagaimana mengenai transparansi biaya – biaya pendidikan yang dijalankan di UPT SMPN 2 Sungai Tarab ?
  • Q7. Bagaimana dengan program praktek kerja industri (prakerin) di Luar sekolah yang selama ini dijalankan UPT SMPN 2 Sungai Tarab ?
  • Q8. Bagaimana dengan pelajaran sekolah di unit produksi untuk melatih siswa untuk bekerja mandiri ?
  • Q9. Bagaimana dengan media komunikasi dari pihak sekolah (surat laporan, kunjungan, telepon, undangandll.) dengan orang tua ?

 Sementara untuk responden kelompok GTK (Guru dan Tenaga Kependididkan) diajukan 9 pertanyaan yang meliputi;

Q1.  Bagaimana kompetensi (pengetahuan, keterampilan) yang kini dimiliki peserta didik anda setelah mengikuti pendidikan di UPT SMPN 2 Sungai Tarab ?

Q2.  Bagaimana dengan perkembangan sikap perilaku/akhlak peserta didik anda setelah mengikuti pendidikan di UPT SMPN 2 Sungai Tarab ?

Q3.   Bagaimana dengan disiplin (pengaturan waktu,pengerjaan tugas – tugas) yang dimiliki peserta didik anda setelah mengikuti pendidikan di UPT SMPN 2 Sungai Tarab ?

Q4.    Bagaimana keterjangkauan biaya pendidikan di UPT SMPN 2 Sungai Tarab ?

Q5.   Bagaimana dengan program/tata tertib anti narkoba yang dijalankan di UPT SMPN 2 Sungai Tarab ?

Q6.   Bagaimana mengenai transparansi biaya – biaya pendidikan yang dijalankan di UPT SMPN 2 Sungai Tarab ?

Q7.   Bagaimana dengan program praktek kerja industri (prakerin) di Luar sekolah yang selama ini dijalankan UPT SMPN 2 Sungai Tarab ?

Q8.    Bagaimana dengan pelajaran sekolah di unit produksi untuk melatih siswa untuk bekerja mandiri ?

Q9.   Bagaimana dengan media komunikasi dari pihak sekolah (surat laporan, kunjungan, telepon, undangandll.) dengan orang tua ? 

Dalam Survey ini jawaban peerta dikelompokkan menjadi 5 kategori penilaian yaitu 1 sampai 5, dimana masing-masing kategori mewakili penilaian sebagai berikut.

Tabel 1. Kategori penilaian

No

Bobot/Score

Kategori Penilaian

Ket

1

1

Sangat Kurang

 

2

2

Kurang

 

3

3

Cukup

 

4

4

Baik

 

5

5

Sangat Baik

 

 Penskoran diatas berpedoman pada skala nilai normal yang ditetapkan oleh Suharsimi Arikunto untuk 5 opsi jawaban

Pada Survey yang dilakukan, responden merupakan UPT SMP Negeri 2 Sungai Tarab. Pengambilan data Survey dilakukan secara online, karena Pertimbangan Efesiensi Dan Efektifitas.  Data yang diperoleh dari hasil pengisian kuisioner akan dianalisis dengan statistic kuantitatif kemudian akan dilaporkan dalam bentuk pie grafik.

Jadwal pelaksanaan kegiatan Survey tersaji di Tabel 2 di bawah ini.

Tabel 2. Aktivitas dan Jadwal Survey

Aktifitas

Bulan

4

5

6

Pengembangan Konsep dan Instrument Survey

ü

 

 

Pengambilan data

 

ü

 

Penulisan Laporan

 

 

ü

 

Berdasarkan hasil survei pada sebanyak 266  responden, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa:

  1. Kelompok responden peserta didik menyatakan indeks kepuasan dengan kategori baik sekali terhadap layanan Pendidikan UPT SMP Negeri 2 Sungai Tarab dan hanya menyatakan kategori baik untuk pertanyaan terkait keadaan ruangan labor IPA dan alat praktek yang digunakan dalam pembelajaran ? (meliputi perawatan, kelengkapan ,dsb)
  2.  Kelompok responden orangtua peserta didik menyatakan indeks kepuasan dengan kategori baik sekali terhadap layanan Pendidikan UPT SMP Negeri 2 Sungai Tarab dan menyatakan baik untuk pertanyaan terkait perkembangan sikap perilaku/akhlak siswa anda setelah mengikuti pendidikan di UPT SMPN 2 Sungai Tarab, keterjangkauan biaya pendidikan di UPT SMPN 2 Sungai Tarab, transparansi biaya – biaya pendidikan yang dijalankan di UPT SMPN 2 Sungai Tarab, dan pelaksanaan pelajaran life skill untuk melatih siswa memiliki kecakapan hidup
  3. Kelompok responden GTK menyatakan indeks kepuasan layana Pendidikan pada UPT SMP Negeri 2 Sungai Taran dengan kategori baik sekali dan menyatakan baik terkait transparansi biaya – biaya pendidikan yang dijalankan di UPT SMPN 2 Sungai Tarab

 


 

Syarat PPDB UPT SMPN 2 Sungai Tarab


 

Tautan PPDB UPT SMPN 2 Sungai Tarab


 

Alur PPDB UPT SMPN 2 Sungai Tarab


 

Brosur PPDB UPT SMPN 2 Sungai Tarab




 

Rabu, 01 April 2020

TIGABELAS HARI DENGAN GOOGLE CLASSROOM

GURU DI TIGAPULUH (+) KELAS

Rabu ini 1 April 2020, genap 13 hari peserta didik dirumahkan. Perlakuan merumahkan terpaksa dilaksanakan  guna menghindarkan peserta didik terpapar virus SARS-CoV-2 yang tiba-tiba menjadi pandemi global. Langkah ini juga bagian upaya efektif memutus mata rantai penyebaran COVID-19.  Menurut WHO SARS-CoV-2 atau lebih dikenal dengan nama virus Corona adalah zoonosis, artinya ditularkan antara hewan dan manusia. Terpapar dan mengalami sakit karena virus Corona disebut dengan COVID-19. COVID-19 merupakan akronim dari Corona Virus Infected Diseases, sementara indeks 19 menjadi penanda gejala ini tampak pertama kali tahun 2019.  Dari data yang ada hingga hari ini tak sedikit korban terenggut nyawanya akibat mengalami COVID-19 dan lambat mendapat penanganan medis.

Meski peserta didik tidak datang kesekolah namun layanan pembelajaran tetap dilakukan  oleh guru dari jarak jauh. Pilihannya adalah menggunakan jaringan internet dengan berbagai platform pembelajaran dalam jaringan (daring). Setidaknya ada 19 platform pembelajaran daring yang dikenal, baik berbayar maupun gratisan. Salah satunya adalah Google Classroom.

Google Classroom merupakan salah satu fasilitas bawaan Google yang didesain untuk kegiatan pembelajaran maya yang interaktif. Guru dan Peserta didik yang tergabung dalam satu kelas dapat berkomunikasi melalui fitur- fitur tersedia. Untuk Guru sebagai admin kelas diberikan 4 fitur yang terdiri dari Forum, Tugas kelas, Daftar Anggota Kelas, dan Nilai Anggota Kelas. Sementara pada peserta didik  terdapat 3 fitur yaitu, Forum, Tugas kelas dan Anggota Kelas.

Tampilan sederhana menjadi keunggulan lain dari platform kelas maya ini. Dengan mengklik ikon Classroom Guru/ Peserta Didik langsung diarahkan pada tampilan ikon kelas berbentuk segiempat lengkap dengan nama kelasnya. Guru/ Peserta didik dapat menambah kelas atau bergabung dengan kelas yang sudah ada dengan mengentrikan kode kelas.

Semenjak dikenalkan dan ujicoba kegiatan Blended Learning di UPT SMP Negeri 2 Sungai Tarab hingga saat ini telah terbentuk 37 kelas maya dengan platform Google Classroom. Kelas sebanyak itu dikelola oleh 15 orang guru untuk melayani 149 orang peserta didik. Termasuk diantaranya kelompok Bimbingan dan Konseling. 

Guna memantau dan menilai kegiatan kelas maya dapat dilakukan supervisi oleh pimpinan sekolah dan pengawas. Supervisi tehadap kelas maya itu efektif dilakukan setelah guru mata pelajaran menggabungkan pimpinan sekolah dan pengawas dalam kelasnya sebagai guru pendamping.  

Pantauan 13 hari sejak peserta didik belajar dirumah menunjukan bahwa kegiatan kelas maya ini sangat dinamis. Guru terlihat mengirimkan materi pembelajaran dalam beragam format. Ada yang berbentuk video, suara, gambar, teks, kuiz dan daftar pertanyaan. Sementara peserta didik dapat pula mengirimkan tanggapan dalam bentuk video, suara, gambar, dan teks. Guru seketika dapat mengomentari tugas peserta didik dan memberikan penilaian menurut kaidah yang disepakati. Hasil kerja peserta didik berserta penilaiannya terarsip dalam foldernya masing-masing. Demikian juga dengan komentar dan histori intraksi Guru dengan peserta didik selama kegiatan pembelajaran dikelas maya.

Seiring waktu agar tidak membosankan Google Classroom  ini dapat dikompilasi dengan menggunakan aplikasi lain. Sebut misalnya webiner, webex, zoom cloud conference, dan beberapa aplikasi sejenis lainnya.

Jumat, 20 Maret 2020

PEMBELAJARAN VIA WHATSAPP


GURU DI TIGA PULUH KELAS

Temuan South China Morning Post perihal pasien pertama yang terinfeksi Virus COVID-19 diikuti oleh tayangan televisi yang menampilkan sejumlah korban terinfeksi virus itu bertumbangan tiba-tiba membuat jagat raya heboh. Dalam ulasan yang lebih detail digambarkan pula dengan jelas bagaimana virus COVID-19 menular dengan cepat, bertahan dengan hebat, dan mengakibatkan korbannya terbunuh dengan mudah. Penduduk dunia kalut seketika dengan pandemi COVID-19, berbagai upaya dilaksanakan Para Pimpinan Negara agar dampaknya terkendali. Diantaranya penambahan Rumah Sakit, peningkatan fasilitas kesehatan,  pembatasan aktifitas warga, bahkan ada yang melaksanakan program LOCK DOWN total dalam waktu dua pekan penuh.

 
Meski Indonesia memiliki catatan rendah kasus COVID–19 namun trend kasus positif terjangkit COVID-19 dalam dua pekan terakhir melonjak tajam (Okezone; Jumat,20-03-2020 – 12.31). Jumlah penduduk yang besar dan rendahnya kesadaran masyarakat terhadap bahaya COVID-19 membuat Pemerintah melakukan sejumlah kebijakan terintegrasi antar Depatemen.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dalam hal ini melaksanakan kebijakan SOCIAL DISTANCES MEASUREMENT dengan membelajarkan peserta didik dirumah. Bentuk praktiknya di Kabupaten Tanah Datar adalah pelaksanaan pembelajaran dalam jaringan. Hal ini merujuk pada Surat Edaran Kepala Dinas Pedidikan dan Kebudayaan Nomor: 421.1/840/Dikbud-2020 yang berisi delapan point penting kegiatan layanan pembelajaran selama penanganan dampak COVID-19.

Terhitung sejak tanggal 20 Maret 2020 hingga 1 April 2020 interaksi Guru-Siswa hanya melalui jaringan internet. Guru diinstruksikan merancang pembelajaran melalui WA (whatsapp) disekolah dan selanjutnya mempublish konten belajar pada siswa yang terintegrasi dalam grup whatsapp kelas (WAGK) ataupun whatsapp mata pelajaran (WAGMP). Dalam postingan Lastrawati, M. Pd mengutip pendapat Indra Jaya Nauman (WA 20/03/2020:00.14) dijelaskan prosedur mempersiapkan belajar di rumah melalui WA sebagai berikut;  
1.      Pastikan semua siswa dan guru punya WA.
2.      Buat grup sesuai kelas (sebaiknya yang jadi admin wali kelas)
3.   Daftarkan semua siswa dan guru yang mengajar di kelas tsb jadi anggota grup. Bisa ditambahkan Kepsek atau Wakasek, Pengawas Sekolah dan  Guru BK
4.      Guru mendistribusikan tugas (KBM) melalui grup sesuai jadwal pelajaran.
5.      Siswa menyetorkan tugas melalui japri.
6.      Guru menyampaikan resume,  catatan umum melalui grup.
7.      Guru juga bisa memberikan layanan personal melalui japri

Dari pantauan dan wawancara singkat dengan guru mata pelajaran Bahasa Inggris, Elwirda, S. Pd pada hari Jumat 20/03/2020 didapat keterangan; 1) peserta didik merespon materi yang di publish, 2) interaksi anggota whatsapp mata pelajaran (WAGMP) cukup cair, 3) peserta didik menyetorkan tugas dalam bentuk foto, 4) keikutsertaan peseta didik cukup tinggi, 5) historis interaksi guru dengan anggota whatsapp mata pelajaran (WAGMP) sulit dilacak, 6) penilaian tidak terekap dalam aplikasi.

Jawaban yang sama diperoleh hampir dari semua guru yang melaksanakan pembelajaran hari ini. Seluruhnya terdapat tiga puluh sesi, dengan enam kelas. Ah, whatsapp memang luar biasa. Menjadi teman guru di tiga puluh ssesi tanpa letoy…